Kamis, 19 April 2012

Identifikasi Kurkumin pada Temulawak secara Kromatografi Lapis Tipis


LAPORAN AKHIR
PRAKTIKUM DDPA MODUL V


A. Judul                     : Identifikasi Kurkumin pada Temulawak secara Kromatografi                                              Lapis Tipis
B. Maksud                : Agar mahasiswa dapat memahami cara kerja KLT
Tujuan                    : Identifikasi senyawa sample yang mengandung kurkumin dengan menggunakan KLT
Prinsip KLT           : Pemisahan komponen kimia berdasarkan prinsip partisi dan adsorbsi secara selektif karena adanya perbedaan daya serap terhadap adsorben dan pelarutan komponen kimia terhadap cairan pengelusi

C. Dasar Teori
            Kromatografi adalah suatu cara pemisahan dimana komponen-komponen yang akan dipisahkan didistribusikan antara 2 fase, salah satunya yang merupakan fase stasioner (diam), dan yang lainnya berupa fasa mobil (fasa gerak).Fase gerak dialirkan menembus atau sepanjang fase stasioner. Fase diam cenderung menahan komponen campuran, sedangkan fasa gerak cenderung menghanyutkannya. Berdasarkan terikatnya suatu komponen pada fasa diam dan perbedaan kelarutannya dalam fasa gerak, komponen-komponen suatu campuran dapat dipisahkan. komponen yang kurang larut dalam fasa gerak atau yang lebih kuat terserap atau terabsorpsi pada fasa diam akan tertinggal, sedangkan komponen yang lebih larut atau kurang terserap akan bergerak lebih cepat
Kromatografi berasal dari bahasa Yunani ‘Kromatos’ yang berarti warna dan ‘Graphos’ yang berarti menulis. Kromatografi mencakup berbagai proses yang berdasarkan pada perbedaan distribusi dari penyusun cuplikan antara dua fasa. Satu fasa tinggal pada system dan dinamakan fasa diam. Fasa lainnya, dinamakan fasa gerak, memperkolasi melalui celah-celah fasa diam. Gerakan fasa menyebabkan perbedaan migrasi dari penyusun cuplikan. Kromatografi dikelompokkan atas beberapa macam yaitu sebagai berikut :
a.      Kromatografi Lapis Tipis
Kromatografi lapis tipis yaitu kromatografi yang menggunakan lempeng gelas atau alumunium yang dilapisi dengan lapisan tipis alumina, silika gel, atau bahan serbuk lainnya. Kromatografi lapis tipis pada umumnya dijadikan metode pilihan pertama pada pemisahan dengan kromatografi.
b.      Kromatografi Penukar Ion
Kromatografi penukar ion merupakan bidang khusus kromatografi cairan-cairan. Seperti namanya, system ini khusus digunakan untuk spesies ion. Penemuan resin sintetik dengan sifat penukar ion sebelum perang Dunia II telah dapat mengatasi pemisahan rumit dari logam tanah jarang dan asam amino.
c.       Kromatografi Penyaringan Gel
Kromatografi penyaringan gel merupakan proses pemisahan dengan gel yang terdiri dari modifikasi dekstran-molekul polisakarida linier yang mempunyai ikatan silang. Bahan ini dapat menyerap air dan membentuk susunan seperti saringan yang dapat memisahkan molekul-molekul berdasarkan ukurannya. Molekul dengan berat antara 100 sampai beberapa juta dapat dipekatkan dan dipisahkan. Kromatografi permeasi gel merupakan teknik serupa yang menggunakan polistirena yang berguna untuk pemisahan polimer.
d.      Elektroforesis
Elektroforesis merupakan kromatografi yang diberi medan listrik disisinya dan tegak lurus aliran fasa gerak. Senyawa bermuatan positif akan menuju ke katode dan anion menuju ke anoda. Sedangkan kecepatan gerak tergantung pada besarnya muatan.
e.       Kromatografi Kertas
Kromatografi kertas merupakan kromatografi cairan-cairan dimana sebagai fasa diam adalah lapisan tipis air yang diserap dari lembab udara oleh kertas jenis fasa cair lainnya dapat digunakan. Teknik ini sangat sederhana.
            Pemisahan KLT dkembangkan oleh Ismailoff dan Schraiber pada tahun1938. Tekhniknya menggunakan penyokong fase diam berupa lapisan tipis berupa lapisan tipis berupa lempeng kaca, aluminium atau pelat inert.
            Adsorben yang digunakan biasanya terdiri dari silica gel atau alumina dapat langsung atau dicampur dengan bahan perekat misalnya kalsium sulfat untuk disalutkan (dilapiskan) pada pelat. Sekarang telah tersedia di pasaran berbagai lapis tipis pada pelat kaca, lembaran aluminium atau embaran sintetik yang langsung dapat dipakai. Pada pemisahannya, fasa bergerak akan membawa komponen campuran sepajang fase diam pada pelat sehingga terbentuk kromatogram. Pemisahan yang terjadi berdasarkan adsorpsi dan partisi.
            Teknik kerja KLT prinsipnya sama dengan kromatografi kertas. Pengembangan umumnya dilakukan dengan cara menaik dlam mana pelat dicelupkan ke dalam pelarut pengambang. Dibandingkan dengan kromatografi kertas, KLT mempunyai beberapa kelebihan yaitu :
§  Waktu pemisahan lebih cepat
§  Sensitive, artinya meskipun jumlah cuplikan sedikit masih dapat dideteksi
§  Daya resolusinya tinggi, sehingga pemisahan lebih sempurna
Penentuan harga Rf pada KLT sama dengan pada kromatografi kertas. Harga Rf dapat digunakan untuk identifikasi kualitatif. Untuk penentuan kadar, bercak komponen dapat dikerok lalu dilarutkan dalam pelarut yang sesuai untuk dianalisa dengan metode lain yang tepat.
Aplikasi KLT sangat luas, termasuk dalam bidang organic dan anorganik. Kebanyakan senyawa yang dapat dipisahkan bersifat hidrobof seperti lipida-lipida dan hidrokarbon dimana bila sukar dikerjakan dengan kromatografi kertas. KLT juga penting untuk pemeriksaan identitas dan kemurnian senyawa obat, kosmetika, tinta, formulasi pewarna, dan bahan makanan.
Ada beberapa prinsip penampakan noda pada kromatografi lapis tipis yaitu sebagai berikut :
v  Pada UV 254 nm
Pada UV 254 nm, lempeng akan berfluoresensi sedangkan sample akan tampak berwarna gelap. Penampakan noda pada lampu UV 254 nm adalh karena adanya daya interaksi antara sinar UV dengan indicator fuoresensi yang terdapat pada lempeng. Fuoresensi cahaya yang tampak merupakan amisi cahaya yang dipancarkan oleh komponen tersebut ketika electron yang teeksitasi dari tingkat enrgi dasar ke tingkat energi yang lebih tinggi kemudian kembali ke keadaan semula sambil melepaskan energi
v  Pada UV 366 nm
Pada UV 366 nm, noda akan berfuoresensi dan lempeng akan berwarna gelap. Penampakan noda pada lampu UV 366 nm adalah karena adanya daya interaksi antara sinar UV dengan gugus kromofor yang terikat oleh auksokrom yang ada pada noda tersebut.Fluoresensi cahaya yang tampak merupakan emisi cahaya yang dipancarka oleh komponen tersebut ketika electron yang terksitasi dari tingkat energi dasar ke tingkat energi yang lebih tinggi kemudian kembai ke keadaan semula sambil melepaskan energi.
v  Pereaksi semprot H2SO4 10%
Prinsip penampakan noda pereaksi semprot H2SO4 10% adalah berdasarkan kemampuan asam sulfat yang bersifat reduktor dalam mrusak gugus kromofor dari zat aktif simplisia sehingga panjang geombangnya akan bergeser ke arah yang lebih panjang (UV menjadi VIS) sehingga noda menjadi tampak oleh mata.
G. Pembahasan
Kromatografi adalah suatu cara pemisahan dimana komponen-komponen yang akan dipisahkan didistribusikan antara 2 fase, salah satunya yang merupakan fase stasioner (diam), dan yang lainnya berupa fasa mobil (fasa gerak).Fase gerak dialirkan menembus atau sepanjang fase stasioner. Fase diam cenderung menahan komponen campuran, sedangkan fasa gerak cenderung menghanyutkannya. Berdasarkan terikatnya suatu komponen pada fasa diam dan perbedaan  kelarutannya dalam fasa gerak, komponen-komponen suatu campuran dapat dipisahkan. komponen yang kurang larut dalam fasa gerak atau yang lebih kuat terserap atau terabsorpsi pada fasa diam akan tertinggal, sedangkan komponen yang lebih larut atau kurang terserap akan bergerak lebih cepat.
Pada percobaan ini sample yang digunakan adalah minyak kurkumin dari temulawak yang diperoleh dari proses soxhletasi dan dilanjutkan dengan evaporasi yang memakan waktu yang cukup lama. Sample tersebut ditotolkan pada plat KLT lalu dicelupkan ke dalam gelas chamber yang telah berisi pelarut dalam jumlah tidak terlalu banyak ketika bercak dari campuran tersebut mengering. Perlu diperhatikan bahwa batas pelarut berada di bawah garis dimana posisi bercak berada. Ada 2 pelarut yang digunakan yaitu kloroform dan dietil eter.
Setelah plat KLT yang telah ditotolkan dengan sample ini dimasukkan ke dalam gelas chamber, maka segera ditutup gelas ini dengan menggunakan kaca.
Alasan untuk menutup gelas kimia adalah untuk meyakinkan bawah kondisi dalam gelas kimia terjenuhkan oleh uap dari pelarut. Untuk mendapatkan kondisi ini, dalam gelas kimia biasanya ditempatkan beberapa kertas saring yang terbasahi oleh pelarut. Kondisi jenuh dalam gelas kimia dengan uap mencegah penguapan pelarut.
Pelarut organik naik disepanjang lapisan tipis zat padat diatas lempengan dan bersamaan dengan pergerakan pelarut tersebut, zat terlarut sample dibawa dengan laju yang tergantung pada kelarutan zat terlarut tersebut dalam fasa bergerak dan interaksinya dengan zat padat. Setelah garis depan pelarut bergerak sekitar 10cm, lempengan dikeringkan dan noda-noda zat terlarutnya diperiksa seperti pada kromatografi kertas. Pemisahan dapat dikerok dari lempengan dengan menggunakan spatula. Zat terlarutnya akan terelusi dari bahan padat bersama-sama pelarutnya dan konsentrasi dari larutan ditentukan dengan suatu teknik seperti spektrofotometri.
Setelah diamati beberapa saat, maka terbentuk warna kuning pada plat KLT tersebut. Yang menyebabkab warna dari senyawa-senyawa pada kromatografi lapis-tipis adalah perbedaan tingkat kepolaran warna dari senyawa-senyawa yang sejauh mana tingkat kepolaran itu mempengaruhi perbedaan atau pemisahan yang ditandai dengan tebentuknya spot-spot senyawa dalam kromatografi lapis-tipis itu tergantung dari migrasi pelarut (fase mobil/fase gerak) terhadap fasa diamnya, yaitu kromatografi lapis-tipis tersebut.
Sifat umum dari penyerap-penyerap untuk kromatografi lapis tipis adalah mirip dengan sifat-sifat penyerap untuk kromatografi kolom. Dua sifat yang penting untuk penyerap adalah besar partikel dan homogenitasnya karena adhesi terhadap penyokong sangat bergantung kepada mereka. Contoh penyerap yang digunakan untuk pemisahan-pemisahan dalam kromatografi lapis tipis ialah misalkan silica atau alumina. Silica gel kebanyakan digunakan dengan diberi pengkilat (binder) yang dimaksud untuk memberikan kekuatan pada lapisan dan menambah adhesi pada gelas penyokong. Pengikat yang digunakan kebanyakan adalah kalsium sulfat, tetapi biasanya dalam perdagangan silica gel telah diberi pengikat. Silica ini digunakan untuk memisahkan asam amino, alkaloid, gula, asam, lemak, lipida, minyak essensial, anion dan kation organic, sterol dan terpenoid. Selain silica ada juga penyerap lainnya seperti alumina, bubuk selulosa, pati, dan sphadex.
            Setelah letak noda komponen diketahui dan diberi tanda batas, maka harga Rf (Retardation factor) dapat dihitung. Harga Rf merupakan parameter karakteristik kromatografi kertas dan kromatografi lapis tipis. Harga ini merupakan ukuran kecepatan migrasi suatu senyawa pada kromatogram dan pada kondisi konstan merupakan besaran karakteristik dan reprodusibel. Harga Rf didefinisikan sebagai perbandingan antara jarak senyawa dari titik awal dan jarak tepi muka pelarut dari titik awal.
Rf         =  Jarak yang ditempuh komponen
      Jarak yang ditempuh pelarut     
Nilai Rf bersifat karakteristik dan menunjukkan identitas masing-masing komponen. Komponen yang paling mudah larut dalam pelarut harganya akan mendekati satu. Sedangkan komponen yang kelarutannya rendah akan mempunyai Rf hamper nol. Ada beberapa factor yang menentukan harga Rf yaitu pelarut, suhu, ukuran dari bejana, kertas dan sifat dari campuran.
            Nilai Rf digunakan untuk identifikasi kualitatif dari senyawa yang tidak diketahui dengan membandingkan terhadap senyawa standard. Bila harga Rf-nya sama, berarti kedua senyawa tersebut identik. Pada percobaan ini, nilai Rf senyawa yang diuji adalah 0, 2034 sedangkan nilai Rf senyawa standard yaitu 0, 8679. karena pebedaan nilai keduanya sangat jauh maka dapat disimplukan bahwa kedua senyawa tersebut tidak sama.
H. Kesimpulan
            Dari percobaaan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa  :
*      Kromatografi lapis tipis yaitu kromatografi yang menggunakan lempeng gelas atau alumunium yang dilapisi dengan lapisan tipis alumina, silika gel, atau bahan serbuk lainnya
*      Sampel yang digunakan yaitu minyak kurkumin dari temulawak, sedangkan pelarutnya yaitu kloroform dan dietil eter
*      Nilai Rf senyawa yang diuji adalah 0, 2034 sedangkan nilai Rf senyawa standard yaitu 0, 8679. karena pebedaan nilai keduanya sangat jauh maka dapat disimpulkan bahwa kedua senyawa tersebut tidak sama.

I.     Kemungkinan Kesalahan
*      Praktikan kurang terampil dalam menotolkan sample pada plat KLT
*      Praktikan kurang teiti dalam mengukur jarak yang ditempuh sample maupun pelarut pada plat KLT























Tidak ada komentar:

Poskan Komentar