Jumat, 13 April 2012


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Sebagian besar lipid yang ditemukan di dalam makanan adalah berbentuk triasilgliserol, kolesterol dan fosfolipid. Kadar rendah lemak makanan adalah penting untuk memfasilitasi penyerapan vitamin-vitamin yang larut di dalam lemak (A, D, E, dan K) dan karotenoid. Manusia dan mamalia lainnya memerlukan makanan untuk memenuhi kebutuhan asam lemak esensial tertentu, misalnya asam linoleat (asam lemak omega-6) dan asam alfa-linolenat (sejenis asam lemak omega-3) karena mereka tidak dapat disintesis dari prekursor sederhana di dalam makanan. Kedua-dua asam lemak ini memiliki 18 karbon per molekulnya, lemak majemuk tak jenuh berbeda di dalam jumlah dan kedudukan ikatan gandanya. Sebagian besar minyak nabati adalah kaya akan asam linoleat (safflower, bunga matahari, dan jagung). Asam alfa-linolenat ditemukan di dalam daun hijau tumbuhan, dan di beberapa biji-bijian, kacang-kacangan, dan leguma (khususnya flax, brassica napus, walnut, dan kedelai). Minyak ikan kaya akan asam lemak omega-3 berantai panjang asam eikosapentaenoat dan asam dokosaheksaenoat. Banyak pengkajian telah menunjukkan manfaat kesehatan yang baik yang berhubungan dengan asupan asam lemak omega-3 pada perkembangan bayi, kanker, penyakit kardiovaskular (gangguan jantung), dan berbagai penyakit kejiwaan, seperti depresi, kelainan hiperaktif/kurang memperhatikan, dan demensia. Sebaliknya, kini dinyatakan bahwa asupan lemak trans, yaitu yang ada pada minyak nabati yang dihidrogenasi sebagian, adalah faktor risiko bagi penyakit jantung.
Beberapa pengkajian menunjukkan bahwa total asupan lemak yang dikonsumsi berhubungan dengan menaiknya risiko kegemukan dan diabetes. Tetapi, pengkajian lain yang cukup banyak, termasuk Women's Health Initiative Dietary Modification Trial (Percobaan Modifikasi Makanan Inisiatif Kesehatan Perempuan), sebuah pengkajian selama delapan tahun terhadap 49.000 perempuan, Nurses' Health Study (Pengkajian Kesehatan Perawat dan Health Professionals Follow-up Study (Pengkajian Tindak-lanjut Profesional Kesehatan), mengungkapkan ketiadaan hubungan itu. Kedua-dua pengkajian ini tidak menunjukkan adanya hubungan antara persentase kalori dari lemak dan risiko kanker, penyakit jantung, atau kelebihan bobot badan. Nutrition Source, sebuah situs web yang dipelihara oleh Departemen Gizi di Sekolah Kesehatan Masyarakat Harvard, mengikhtisarkan bukti-bukti terkini pada dampak lemak makanan: "Sebagian besar rincian penelitian yang dilakukan di Harvard ini menunjukkan bahwa jumlah keseluruhan lemak di dalam makanan tidak berhubungan dengan bobot badan atau penyakit tertentu.
Selain berfungsi dibidang gizi dan kesehatan, lemak/asam lemak juga dapat berfungsi sebagai bahan baku pembuatan sabun sebagaimana yang dilakukan pada percobaan ini, dimana lemak yang diperoleh merupakan lemak yang berasal dari lemak sapi.
1.2  Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini antar lain:
a.        Kognitif         :  Praktikan dapat memahami lipida ditinjau dari segi kimia.
b.        Afektif           :  Dihadapkan pada gejala-gejala percobaan lipida, praktikan dapat menghargai manfaat lipida sebagai bahan makanan.
c.         Psikomotor   :  Praktikan terampil melakukan percobaan-percobaan lipida.









BAB II
DASAR TEORI
2.1 Lipid
2.1.1    Pengertian Lipid, Lemak, dan Minyak
Dalam kamus kimia Organik (1993: 141), lipid didefiniskan sebagai kumpulan zat organic yang tak melarut dalam air, tetapi larut dalam etanol, eter, kloroform, dan lain-lain pelarut lemak dan yang member rasa lemak; di Amerika Selatan istilah lipid mencakup asam lemak dan sabun, lemak netral, malam, steroid, dan fosfatida; di Inggris istilah lipid dibatasi penggunaannya kepada senyawa yang pada hidrolisis menghasilkan alcohol atau gula, basa, dan asam lemak, dan tidak meliputi lemak netral, asam atau sterol.
Lipid atau sering juga disebut dengan lemak mengacu pada golongan senyawa hidrokarbon alifatik nonpolar dan hidrofobik. Karena nonpolar, lipid tidak larut dalam pelarut polar seperti air, tetapi larut dalam pelarut nonpolar, seperti alkohol, eter atau kloroform. Fungsi biologis terpenting lipid di antaranya untuk menyimpan energi, sebagai komponen struktural membran sel, dan sebagai pensinyalan molekul.
Lipid adalah senyawa organik yang diperoleh dari proses dehidrogenasi endotermal rangkaian hidrokarbon. Lipid bersifat amfifilik, artinya lipid mampu membentuk struktur seperti vesikel, liposom, atau membran lain dalam lingkungan basah. Lipid biologis seluruhnya atau sebagiannya berasal dari dua jenis subsatuan atau "blok bangunan" biokimia: gugus ketoasil dan gugus isoprena. Dengan menggunakan pendekatan ini, lipid dapat dibagi ke dalam delapan kategori: asil lemak, gliserolipid, gliserofosfolipid, sfingolipid, sakarolipid, dan poliketida (diturunkan dari kondensasi subsatuan ketoasil); serta lipid sterol dan lipid prenol (diturunkan dari kondensasi subsatuan isoprena).
Dalam Kamus Kimia Organik (1993: 137), lemak didefinisikan sebagai ester glierol dengan asam lemak, lazimnya dengan asam oleat, asam palmitat atau asam stearat; pada suhu kamar lemak berbentuk padat, sedangkan minyak berupa zat cair; lemak dapat dibuat dengan menghidrogenkan minyak yaitu mereaksikan hydrogen dengan minyak yang dipansakan dengan menggunakan katalis.
Lemak secara khusus menjadi sebutan bagi minyak hewani pada suhu ruang, lepas dari wujudnya yang padat maupun cair, yang terdapat pada jaringan tubuh yang disebut adiposa.
Pada jaringan adiposa, sel lemak mengeluarkan hormon leptin dan resistin yang berperan dalam sistem kekebalan, hormon sitokina yang berperan dalam komunikasi antar sel. Hormon sitokina yang dihasilkan oleh jaringan adiposa secara khusus disebut hormon adipokina, antara lain kemerin, interleukin-6, plasminogen activator inhibitor-1, retinol binding protein 4 (RBP4), tumor necrosis factor-alpha (TNFα), visfatin, dan hormon metabolik seperti adiponektin dan hormon adipokinetik  (http://id.wikipedia.org).
Minyak adalah zat cair atau mudah dicairkan pada pemanasan, larut dalam eter, tetapi tidak larut dalam air, biasanya dapat dibakar; zat demikian bergantung pada asalnya, dikelompokkan sebagai minyak nabati, atau mineral, dan bergantung pada sifatnya ketika pemanasan dapat dikelompokkan sebagai atsiri atau tetap (oil) (Depdikbud, 1993: 150).
2.1.2    Sifat dan Ciri-ciri
karena struktur molekulnya yang kaya akan rantai unsur karbon(-CH2-CH2-CH2-)maka lemak mempunyai sifat hydrophob. Ini menjadi alasan yang menjelaskan sulitnya lemak untuk larut di dalam air. Lemak dapat larut hanya di larutan yang apolar atau organik seperti: eter, Chloroform, atau benzol (http://id.wikipedia.org).
Ciri khusus dari zat atau senyawa lipid ialah tidak larut dalam air, tetapi dalam pelarut-pelarut lemak, yaitu cairan pelarut nonpolar seperti alkohol, khloro eter, aseton, dan sebagainya. Sifat lipid yang tidak larut dalam air mengakui kurang menarik untuk diteliti karena selain nilai ekonomi pelarut lipid tersebut juga ada sifat fisik lain yang tidak menguntungkan yaitu mudah terbakar. Sifat lipid sukar dimurnikan atau dikristalkan walaupun biomolekul lipid tidak sesukar atau serumit karbohidrat atau protein (http://arenlovesu.blogspot.com).
Sifat lipida ditentukan oleh panjang dan kejenuhan asam lemak yang membentuknya. Makin panjang asam lemak makin tinggi titik lelehnya. Juga asam lemak jenuh memiliki titik leleh yang lebih tinggi dari asam lemak tak jenuhnya. Maka membran biologi yang mengandung asam lemak pendek dan jenuh memiliki kemampuan mengalir lebih tinggi.
            Reaksi kimia asam lemak menunjukkan reaktivitas dari gugus karboksil, gugus fungsional lain dan derajat ketidakjenuhan rantai hidrokarbon. Karena asam lemak bebas biasanya beracun, maka molekul ini hanya terbatas dalam sel. Asam ini umumnya ditemukan sebagai molekul kompleks dengan ester oksigen dalam lipid (seperti triasilgliserol, glikolipid, dan fosfolipid).
Pada umumnya asam lemak yang terdapat di alam mengandung jumlah atom karbon genap antara 14 sampai 24. Asam lemak dengan atom karbon 16 dan 18 adalah asam lemak yang paling banyak terdapat dalam lipida hewan dan tumbuhan. Lipid dari hewan dan tumbuhan ini selanjutnya dimakan oleh manusia.
Suatu asam lemak (Tabel 1) merupakan suatu rantai hodrokarbon dengan suatu gugusan karboksil terminal, telah diidentifikasi lebih dari 70 asam lemak yang tersedia di alam. Walaupun asam lemak berantai pendek, contohnya, asam lemak berantai empat-atau enam- adalah lazim ditemukan, namun triasilgliserolutama ditemukan pada tumbuh-tumbuhan memiliki asam lemak dengan jumlah atom karbon genap, dengan panjang 14 hingga 22 karbon. Asam lemak jenuh tidak mengandung ikatan ganda C=C dalam strukturnya, sementara asam lemak tidak jenuh memiliki satu atau lebih ikatan ganda, yang kadang-kadang berada dalam konfigurasi geometris cis. Asam lemak tidak jenuh paling melimpah memiliki satu atau dua ikatan ganda (masing-masing, asam lemak monoenoat dan dienoat); namun, asam lemak olefinik dengan tiga (trienoat) dan empat (tetraenoat) ikatan ganda juga ditemukan secara alamiah (Armstrong, 1995).
Table 1. Titik didih asam lemak jenuh dan tak jenuh
Komponen
Nama Trivial
Titik didih (oC)
Asam Lemak Jenuh
14:0
Miristat
54
16:0
Palmitat
63
18:0
Stearat
70
Asam Lemak tak Jenuh
16:1
Palmitoleat
-0,5
18:1
Oleat
13
18:2
Linoleat
-5
18:3
Linolenat
-10
20:4
Arakhidonat
-50

Pada hakekatnya, asam lemak tidak jenuh memiliki titik lebur yang lebih rendah dibandingkan asam lemak jenuh. Contohnya, asam lemak jenuh C 18 (asam stearat) memiliki titih didih 70 oC; suatu bentuk monoenoat (asam oleat) melebur pada 13 oC dan suatu bentuk dienoat (asam linoleat) pada -5 oC. Triasilgliserol tumbuhan (minyak tumbuh-tumbuhan) adalah cair pada suhu ruang, karena mereka memiliki proporsi asam lemak tidak jenuh yang lebih besar daripada triasilgliserol hewan (contohnya, lemak babi), yang padat atau semi-padat pada suhu yang sama. Perbedaan dalam kandungan asam lemak tidak jenuh ini mendapat banyak perhatian, karena pengertian bahwa asupan harian yang berlebihan dari asam lemah jenuh dan kolesterol berkaitan dengan terjadinya penyakit jantung. Sebagai akibatnya, penasehat medis dan gizi menyarankan suatu penurunan dari lemah hewan (dan kolesterol) dalam diet, dengan proporsi yang lebih tinggi dari asupan lemak berupa triasilgliserol yang tinggi dalam asam lemak polyunsaturated, yaitu asam lemak yang mengandung dua atau lebih ikatan ganda). Asupan lemak yang lebih rendah juga merupakan kalori dari suatu diet, karena atas dasar berat, lebih dari dua kali lipat kalori (energi) didapat dari lemak daripada karbohidrat dan protein (Armstrong, 1995).
Molekul asam lemak memiliki daerah hidrofobik dan daerah hidrofilik sekaligus. Dua sifat yang saling bertolak belakang dalam satu molekul inilah yang umumnya mendasari berbagai fungsi biologis lipid. Ekor hidrokarbon asam lemak cenderung saling berkumpul sedemikian rupa sehingga hanya sedikit saja berhubungan dengan air.. Sebaliknya, gugus karboksilnya, karena bersifat polar, cenderung untuk berhubungan dengan lingkungan sekitar yang terutama terdiri atas air (Gilvery and Goldstein, 1996).
2.1.3    Penggolongan Lipid
Berdasarkan strukturnya, lipid dapat digolongkan sebagai berikut:
a.        Lipid sederhana atau homolipid merupakan lipid bentuk ester yang mengandung C, H dan O. Contoh lipid sederhana adalah lemak, ester lemak, gliserol, lilin dan lain-lain.
b.        Lipid majemuk merupakan senyawa yang mengandung bahan-bahan lain selain alkohol dan asam lemak. Contohnya fosfoasilgliserol (fosfogliserida) tersusun atas gliserol, asam lemak, HPO42- dan kolin. sfingomielin ; tersusun atas sfingosin, asam lemak, HPO42- dan kolin. Gangliosida; terdiri atas sfingosin, asam lemak, dan 2-6 gula sederhana (termasuk asam sialat), dan Serebrosida; tersusun atas sfingosin, asam lemak dan gula sederhana.
c.         Lipid turunan, merupakan senyawa-senyawa-senyawa lipid yang tidak dimasukkan dalam kedua kelompok lipid diatas. Yakni berasal dari hidrolisis lipid sederhana atau lipid majemuk. Contohnya  steroid, karotenoid, dan vitamin larut dalam air.
Kaategori lipid dapat dijelaskan sebagai berikut.
§   Asam lemak
Asam lemak atau asil lemak ialah istilah umum yang digunakan untuk menjabarkan bermacam-ragam molekul-molekul yang disintesis dari polimerisasi asetil-KoA dengan gugus malonil-KoA atau metilmalonil-KoA di dalam sebuah proses yang disebut sintesis asam lemak. Asam lemak terdiri dari rantai hidrokarbon yang berakhiran dengan gugus asam karboksilat; penyusunan ini memberikan molekul ujung yang polar dan hidrofilik, dan ujung yang nonpolar dan hidrofobik yang tidak larut di dalam air. Struktur asam lemak merupakan salah satu kategori paling mendasar dari biolipid biologis dan dipakai sebagai blok bangunan dari lipid dengan struktur yang lebih kompleks. Rantai karbon, biasanya antara empat sampai 24 panjang karbon, baik yang jenuh ataupun tak jenuh dan dapat dilekatkan ke dalam gugus fungsional yang mengandung oksigen, halogen, nitrogen, dand belerang. Ketika terdapat sebuah ikatan valensi ganda, terdapat kemungkinan isomerisme geometri cis atau trans, yang secara signifikan memengaruhi konfigurasi molekuler molekul tersebut. Ikatan ganda-cis menyebabkan rantai asam lemak menekuk, dan hal ini menjadi lebih mencolok apabila terdapat ikatan ganda yang lebih banyak dalam suatu rantai. Pada gilirannya, ini memainkan peranan penting di dalam struktur dan fungsi membran sel. Asam lemak yang paling banyak muncul di alam memiliki konfigurasi cis, meskipun bentuk trans wujud di beberapa lemak dan minyak yang dihidrogenasi secara parsial.
Contoh asam lemak yang penting secara biologis adalah eikosanoid, utamanya diturunkan dari asam arakidonat dan asam eikosapentaenoat, yang meliputi prostaglandin, leukotriena, dan tromboksana. Kelas utama lain dalam kategori asam lemak adalah ester lemak dan amida lemak. Ester lemak meliputi zat-zat antara biokimia yang penting seperti ester lilin, turunan-turunan asam lemak tioester koenzim A, turunan-turunan asam lemak tioester ACP, dan asam lemak karnitina. Amida lemak meliputi senyawa N-asiletanolamina, seperti penghantar saraf kanabinoid anandamida.
Asam lemak adalah asam alkanoat dengan rumus bangun hidrokarbon yang panjang. Rantai hidrokarbon tersebut dapat mencapat 10 hingga 30 atom. Rantai alkana yang non polar mempunyai peran yang sangat penting demi mengimbangi kebasaan gugus hidroksil.
Pada senyawa asam dengan sedikit atom karbon, gugus asam akan mendominasi sifat molekul dan memberikan sifat polar kimiawi. Walaupun demikian pada asam lemak, rantai alkanalah yang mendominasi sifat molekul.
Asam lemak terbagi menjadi:
1.         Asam lemak jenuh
2.         Asam lemak tak jenuh
3.         Garam dari asam lemak
4.         Prostaglandin
§   Gliserolipid
Gliserolipid tersusun atas gliserol bersubstitusi mono-, di-, dan tri-, yang paling terkenal adalah ester asam lemak dari gliserol (triasilgliserol), yang juga dikenal sebagai trigliserida. Di dalam persenyawaan ini, tiga gugus hidroksil gliserol masing-masing teresterifikasi, biasanya oleh asam lemak yang berbeda. Karena ia berfungsi sebagai cadangan makanan, lipid ini terdapat dalam sebagian besar lemak cadangan di dalam jaringan hewan. Hidrolisis ikatan ester dari triasilgliserol dan pelepasan gliserol dan asam lemak dari jaringan adiposa disebut "mobilisasi lemak".
Subkelas gliserolipid lainnya adalah glikosilgliserol, yang dikarakterisasi dengan keberadaan satu atau lebih residu monosakarida yang melekat pada gliserol via ikatan glikosidik. Contoh struktur di dalam kategori ini adalah digalaktosildiasilgliserol yang dijumpai di dalam membran tumbuhan dan seminolipid dari sel sperma mamalia.
Gliserida adalah ester dari asam lemak dan sejenis alkohol dengan tiga gugus fungsional yang disebut gliserol (nama IUPAC, 1,2,3-propantriol). Karena gliserol memiliki tiga gugus fungsional alkohol, asam lemak akan bereaksi untuk membuat tiga gugus ester sekaligus. Gliserida dengan tiga gugus ester asam lemak disebut trigliserida. Jenis asam lemak yang terikat pada ketiga gugus tersebut seringkali tidak berasal dari kelas asam lemak yang sama.



§   Fosfolipid




Fosfatidiletanolamina
(Glisero)fosfolipid (bahasa Inggris: phospholipid, phosphoglycerides, glycerophospholipid) sangat mirip dengan trigliserida dengan beberapa perkecualian. Fosfolipid terbentuk dari gliserol (nama IUPAC, 1,2,3-propantriol) dengan dua gugus alkohol yang membentuk gugus ester dengan asam lemak (bisa jadi dari kelas yang berbeda), dan satu gugus alkohol membentuk gugus ester dengan asam fosforat.
Gliserofosfolipid, juga dirujuk sebagai fosfolipid, terdapat cukup banyak di alam dan merupakan komponen kunci sel lipd dwilapis, serta terlibat di dalam metabolisme dan sinyal komunikasi antar sel. Jaringan saraf termasuk otak, mengandung cukup banyak gliserofosfolipid. Perubahan komposisi zat ini dapat mengakibatkan berbagai kelainan saraf.
Contoh gliserofosfolipid yang ditemukan di dalam membran biologis adalah fosfatidilkolina (juga dikenal sebagai PC, GPCho, atau lesitin), fosfatidiletanolamina (PE atau GPEtn), dan fosfatidilserina (PS atau GPSer). Selain berperan sebagai komponen primer membran sel dan tempat perikatan bagi protein intra- dan antarseluler, beberapa gliserofosfolipid di dalam sel-sel eukariotik, seperti fosfatidilinositol dan asam fosfatidat adalah prekursor, ataupun sendirinya adalah kurir kedua yang diturunkan dari membran. Biasanya, satu atau kedua gugus hidroksil ini terasilasi dengan asam lemak berantai panjang, meskit terdapat gliserofosfolipid yang terikat dengan alkil dan 1Z-alkenil (plasmalogen). Terdapat juga varian dialkileter pada arkaebakteria.
Gliserofosfolipid dapat dibagi menurut sifat kelompok-kepala polar pada posisi sn-3 dari tulang belakang gliserol pada eukariota dan eubakteria, atau posisi sn-1 dalam kasus archaea.
Karena pada gugus ester asam fosforat masih mempunyai satu ikatan valensi yang bebas, biasanya juga membentuk gugus ester dengan alkohol yang lain, misalnya alkohol amino seperti kolina, etanolamina dan serina. Fosfolipid merupakan komponen yang utama pada membran sel lapisan lemak. Fosfolipid yang umum dijumpai adalah:
1.         Lecitin yang mengandung alkohol amino jenis kolina
2.         Kepalin yang mengandung alkohol amino jenis serina atau etanolamina.
Sifat fosfolipid bergantung dari karakter asam lemak dan alkohol amino yang diikatnya.
§   Sfingolipid



Sfingomielin
Sfingolipid adalah keluarga kompleks dari senyawa-senyawa yang berbagi fitur struktural yang sama, yaitu kerangka dasar basa sfingoid yang disintesis secara de novo dari asam amino serina dan asil lemak KoA berantai panjang, yang kemudian diubah menjadi seramida, fosfosfingolipid, glisosfingolipid, dan senyawa-senyawa lainnya.
Nama sfingolipid diambil dari mitologi Yunani, Spinx, setengah wanita dan setengah singa yang membinasakan siapa saja yang tidak dapat menjawab teka-tekinya. Sfingolipid ditemukan oleh Johann Thudichum pada tahun 1874 sebagai teka-teki yang sangat rumit dari jaringan otak.
Sfingolipid adalah jenis lemak kedua yang ditemukan di dalam membran sel, khususnya pada sel saraf dan jaringan otak. Lemak ini tidak mengandung gliserol, tetapi dapat menahan dua gugus alkohol pada bagian tengah kerangka amina.
Fosfosfingolipid utama pada mamalia adalah sfingomielin (seramida fosfokolina), sementara pada serangga terutama mengandung seramida fosfoetanolamina, dan pada fungi memiliki fitoseramida fosfoinositol dan gugus kepala yang mengandung manosa.
Basa sfingoid utama mamalia biasa dirujuk sebagai sfingosina. Seramida (Basa N-asil-sfingoid) adalah subkelas utama turunan basa sfingoid dengan asam lemak yang terikat pada amida. Asam lemaknya biasanya jenuh ataupun mono-takjenuh dengan panjang rantai dari 16 atom karbon sampai dengan 26 atom karbon.
Glikosfingolipid adalah sekelompok molekul beraneka ragam yang tersusun dari satu residu gula atau lebih yang terhubung ke basa sfingoid melalui ikatan glikosidik.
§   Lipid sterol
Lipid sterol, seperti kolesterol dan turunannya, adalah komponen lipid membran yang penting, bersamaan dengan gliserofosfolipid dan sfingomielin. Steroid, semuanya diturunkan dari struktur inti empat-cincin lebur yang sama, memiliki peran biologis yang bervariasi seperti hormon dan molekul pensinyalan. Steroid 18-karbon (C18) meliputi keluarga estrogen, sementara steroid C19 terdiri dari androgen seperti testosteron dan androsteron. Subkelas C21 meliputi progestagen, juga glukokortikoid dan mineralokortikoid. Sekosteroid, terdiri dari bermacam ragam bentuk vitamin D, dikarakterisasi oleh perpecahan cincin B dari struktur inti. Contoh lain dari lemak sterol adalah asam empedu dan konjugat-konjugatnya, yang pada mamalia merupakan turunan kolesterol yang dioksidasi dan disintesis di dalam hati. Pada tumbuhan, senyawa yang setara adalah fitosterol, seperti beta-Sitosterol, stigmasterol, dan brasikasterol; senyawa terakhir ini juga digunakan sebagai bagi pertumbuhan alga. Sterol dominan di dalam membran sel fungi adalah ergosterol.
§   Lipid prenol
Lipid prenol disintesis dari prekursor berkarbon 5 isopentenil pirofosfat dan dimetilalil pirofosfat yang sebagian besar dihasilkan melalui lintasan asam mevalonat (MVA). Isoprenoid sederhana (alkohol linear, difosfat, dan lain-lain) terbentuk dari adisi unit C5 yang terus menerus, dan diklasifikasi menurut banyaknya satuan terpena ini. Struktur yang mengandung lebih dari 40 karbon dikenal sebagai politerpena. Karotenoid adalah isoprenoid sederhana yang penting yang berfungsi sebagai antioksidan dan sebagai prekursor vitamin A. Contoh kelas molekul yang penting secara biologis lainnya adalah kuinon dan hidrokuinon yang mengandung ekor isoprenoid yang melekat pada inti kuinonoid yang tidak berasal dari isoprenoid. Vitamin E dan vitamin K, juga ubikuinon, adalah contoh kelas ini. Prokariota mensintesis poliprenol (disebut baktoprenol) yang satuan isoprenoid terminalnya yang melekat pada oksigen tetap tak jenuh, sedangkan pada poliprenol hewan (dolikol) isoprenoid terminalnya telah direduksi.
§   Sakarolipid









Struktur sakarolipid Kdo2-Lipid A. Residu glukosamina berwarna biru, residu Kdo berwarna merah, rantai asil berwarna hitam, dan gugus fosfat berwarna hijau.
Sakarolipid (bahasa Inggris: saccharolipid, glucolipid) adalah asam lemak yang terikat langsung dengan molekul glukosa dan membentuk struktur yang sesuai dengan membran dwilapis. Pada sakarolipid, monosakarida mengganti ikatan gliserol dengan asam lemak, seperti yang terjadi pada gliserolipid dan gliserofosfolipid.
Sakarolipid yang paling dikenal adalah prekursor glukosamina terasilasi dari komponen lipid A lipopolisakarida pada bakteri gram-negatif. Molekul Lipid-A yang umum adalah disakarida dari glukosamina, yang diturunkan sebanyak tujuh rantai asil-lemak. Lipopolisakarida minimal yang diperlukan untuk pertumbuhan E. coli adalah Kdo2-Lipid A, yakni disakarida berheksa-asil dari glukosamina yang diglikosilasikan dengan dua residu asam 3-deoksi-D-mano-oktulosonat (Kdo).
Proses hidrolisis sakarolipid akan menghasilkan amino gula.
§   Poliketida
Poliketida adalah metabolit sekunder yang terbentuk melalui proses polimerisasi dari asetil dan propionil oleh enzim klasik maupun enzim iteratif dan multimodular yang berbagi fitur mekanistik yang sama dengan asam lemak sintasi. Enzim yang sering digunakan adalah poliketida sintase, melalui proses kondensasi Claisen.
Poliketida merupakan metabolit sekunder yang dihasilkan secara alami oleh bakteri, fungi, tumbuhan, hewan, sumber daya laut dan organisme yang memiliki keanekaragaman struktural yang tinggi.
Banyak poliketida berupa molekul siklik yang kerangkanya seringkali dimodifikasi lebih jauh melalui glikosilasi, metilasi, hidroksilasi, oksidasi, dan/atau proses lainnya untuk menimba manfaat dari sifat antibiotik yang dimiliki. Beberapa jenis poliketida bahkan bersifat anti kanker, dapat menurunkan kolesterol serta menunjukkan efek imuno-supresif.
Sejumlah senyawa antimikroba, antiparasit, dan antikanker merupakan poliketida atau turunannya, seperti eritromisin, antibiotik tetrasiklin, avermektin, dan antitumor epotilon.
Secara klinis, lemak yang penting adalah
a.        Kolesterol
Kolesterol adalah jenis lemak yang paling dikenal oleh masyarakat. Kolesterol merupakan komponen utama pada struktur selaput sel dan merupakan komponen utama sel otak dan saraf. Kolesterol merupakan bahan perantara untuk pembentukan sejumlah komponen penting seperti vitamin D (untuk membentuk & mempertahankan tulang yang sehat), hormon seks (contohnya Estrogen & Testosteron) dan asam empedu (untuk fungsi pencernaan ).
Kolesterol tubuh berasal dari hasil pembentukan di dalam tubuh (sekitar 500 mg/hari) dan dari makanan yang dimakan. Pembentukan kolesterol di dalam tubuh terutama terjadi di hati (50% total sintesis) dan sisanya di usus, kulit, dan semua jaringan yang mempunyai sel-sel berinti. Jenis-jenis makanan yang banyak mengandung kolesterol antara lain daging (sapi maupun unggas), ikan dan produk susu. Makanan yang berasal dari daging hewan biasanya banyak mengandung kolesterol, tetapi makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan tidak mengandung kolesterol.
b.        Trigliserida (lemak netral)
Sebagian besar lemak dan minyak di alam terdiri atas 98-99% trigliserida. Trigliserida adalah suatu ester gliserol. Trigliserida terbentuk dari 3 asam lemak dan gliserol. Apabila terdapat satu asam lemak dalam ikatan dengan gliserol maka dinamakan monogliserida. Fungsi utama Trigliserida adalah sebagai zat energi. Lemak disimpan di dalam tubuh dalam bentuk trigliserida. Apabila sel membutuhkan energi, enzim lipase dalam sel lemak akan memecah trigliserida menjadi gliserol dan asam lemak serta melepasnya ke dalam pembuluh darah. Oleh sel-sel yang membutuhkan komponen-komponen tersebut kemudian dibakar dan menghasilkan energi, karbondioksida (CO2), dan air (H2O).
c.         Lipida plasma
Pada umumnya lemak tidak larut dalam air, yang berarti juga tidak larut dalam plasma darah. Agar lemak dapat diangkut ke dalam peredaran darah, maka lemak tersebut harus dibuat larut dengan cara mengikatkannya pada protein yang larut dalam air. Ikatan antara lemak (kolesterol, trigliserida, dan fosfolipid) dengan protein ini disebut Lipoprotein (dari kata Lipo=lemak, dan protein).
Lipoprotein bertugas mengangkut lemak dari tempat pembentukannya menuju tempat penggunaannya.
Ada beberapa jenis lipoprotein, antara lain:
§  Kilomikron
§  VLDL (Very Low Density Lipoprotein)
§  IDL (Intermediate Density Lipoprotein)
§  LDL (Low Density Lipoprotein)
§  HDL (High Density Lipoprotein) (http://www.medicastore.com).
Menurut Page (1997) lipid dapat juga digolongkan seperti pada tabel 2 dibawah ini.
Tabel 2. Penggolongan Lipid menurut Page (1997)

Golongan
Uraian
I
Asam lemak: asam karboksilat alifatik berantai panjang
II
Alkohol lemak: alkohol alifatik berantai panjang
III
Netral
a.          Mono-gliserol, did- an triasil (ester dengan gliserol)
b.          Eter gliserol
c.          Malam: ester dari asam lemak dengan sembarang alcohol selain gliserol
IV
Fosfogliserida: turunan asam fosfatida (berhubungan dengan membran)
V
Sfingolipid: umumnya berhubungan dengan jaringan syaraf
VI
Terpen : termasuk senyawa tak jenuh seperti minyak esensial dan zat aroma, vitamin A, pigmen visual retina, dan klorofil
VII
Steroida : senyawa alisiklik berlingkar campuran termasuk kolesterol dan hormon steroid
VIII
Lipid terkonyugasi:
a.         Lipoprotein (larut dalam air)
b.         Proteolipid (tidak larut dalam air, larut dalam pelarut lemak)
c.         Lipopolisakarida
IX
Prostaglandin : lipid dari asam polilemak tak jenuh yang beraktivitas biologi tinggi
X
Hidrokarbon : jenuh dan tak jenuh dialam

2.1.4        Fungsi Lipid/Lemak
Secara umum dapat dikatakan bahwa lemak memenuhi fungsi dasar bagi manusia, yaitu:
a.        Menjadi cadangan energi dalam bentuk sel lemak. 1 gram lemak menghasilkan 39.06 kJ atau 9,3 kcal.
b.        Lemak mempunyai fungsi selular dan komponen struktural pada membran sel yang berkaitan dengan karbohidrat dan protein demi menjalankan aliran air, ion dan molekul lain, keluar dan masuk ke dalam sel.
c.         Menopang fungsi senyawa organik sebagai penghantar sinyal, seperti pada prostaglandin dan steroid hormon dan kelenjar empedu.
d.        Menjadi suspensi bagi vitamin A, D, E dan K yang berguna untuk proses biologis
e.        Berfungsi sebagai penahan goncangan demi melindungi organ vital dan melindungi tubuh dari suhu luar yang kurang bersahabat.
Lemak juga merupakan sarana sirkulasi energi di dalam tubuh dan komponen utama yang membentuk membran semua jenis sel.
§   Membran
Sel eukariotik disekat-sekat menjadi organel ikatan-membran yang melaksanakan fungsi biologis yang berbeda-beda. Gliserofosfolipid adalah komponen struktural utama dari membran biologis, misalnya membran plasma selular dan membran organel intraselular; di dalam sel-sel hewani membran plasma secara fisik memisahkan komponen intraselular dari lingkungan ekstraselular. Gliserofosfolipid adalah molekul amfipatik (mengandung wilayah hidrofobik dan hidrofilik) yang mengandung inti gliserol yang terkait dengan dua "ekor" turunan asam lemak oleh ikatan-ikatan ester dan ke satu gugus "kepala" oleh suatu ikatan ester fosfat. Sementara gliserofosfolipid adalah komponen utama membran biologis, komponen lipid non-gliserida lainnya seperti sfingomielin dan sterol (terutama kolesterol di dalam membran sel hewani) juga ditemukan di dalam membran biologis. Di dalam tumbuhan dan alga, galaktosildiasilgliserol, dan sulfokinovosildiasilgliserol, yang kekurangan gugus fosfat, adalah komponen penting dari membran kloroplas dan organel yang berhubungan dan merupakan lipid yang paling melimpah di dalam jaringan fotosintesis, termasuk tumbuhan tinggi, alga, dan bakteri tertentu.
Dwilapis telah ditemukan untuk memamerkan tingkat-tingkat tinggi dari keterbiasan ganda yang dapat digunakan untuk memeriksa derajat keterurutan (atau kekacauan) di dalam dwilapis menggunakan teknik seperti interferometri polarisasi ganda.















Organisasi-mandiri fosfolipid: liposom bulat, misel, dan dwilapis lipid.
§   Cadangan energi
Triasilgliserol, tersimpan di dalam jaringan adiposa, adalah bentuk utama dari cadangan energi di tubuh hewan. Adiposit, atau sel lemak, dirancang untuk sintesis dan pemecahan sinambung dari triasilgliserol, dengan pemecahan terutama dikendalikan oleh aktivasi enzim yang peka-hormon, lipase. Oksidasi lengkap asam lemak memberikan materi yang tinggi kalori, kira-kira 9 kkal/g, dibandingkan dengan 4 kkal/g untuk pemecahan karbohidrat dan protein. Burung pehijrah yang harus terbang pada jarak jauh tanpa makan menggunakan cadangan energi triasilgliserol untuk membahanbakari perjalanan mereka.
§   Pensinyalan
Di beberapa tahun terakhir, bukti telah mengemuka menunjukkan bahwa pensinyalan lipid adalah bagian penting dari pensinyalan sel. Pensinyalan lipid dapat muncul melalui aktivasi reseptor protein G berpasangan atau reseptor nuklir, dan anggota-anggota beberapa kategori lipid yang berbeda telah dikenali sebagai molekul-molekul pensinyalan dan sistem kurir kedua. Semua ini meliputi sfingosina-1-fosfat, sfingolipid yang diturunkan dari seramida yaitu molekul kurir potensial yang terlibat di dalam pengaturan pergerakan kalsium, pertumbuhan sel, dan apoptosis; diasilgliserol (DAG) dan fosfatidilinositol fosfat (PIPs), yang terlibat di dalam aktivasi protein kinase C yang dimediasi kalsium;  prostaglandin, yang merupakan satu jenis asam lemak yang diturunkan dari eikosanoid yang terlibat di dalam radang and kekebalan; hormon steroid seperti estrogen, testosteron, dan kortisol, yang memodulasi fungsi reproduksi, metabolisme, dan tekanan darah; dan oksisterol seperti 25-hidroksi-kolesterol yakni agonis reseptor X hati.
§   Fungsi lainnya
Vitamin-vitamin yang "larut di dalam lemak" (A, D, E, dan K1) – yang merupakan lipid berbasis isoprena – gizi esensial yang tersimpan di dalam jaringan lemak dan hati, dengan rentang fungsi yang berbeda-beda. Asil-karnitina terlibat di dalam pengangkutan dan metabolisme asam lemak di dalam dan di luar mitokondria, di mana mereka mengalami oksidasi beta. Poliprenol dan turunan terfosforilasi juga memainkan peran pengangkutan yang penting, di dalam kasus ini pengangkutan oligosakarida melalui membran. Fungsi gula fosfat poliprenol dan gula difosfat poliprenol di dalam reaksi glikosilasi ekstra-sitoplasmik, di dalam biosintesis polisakarida ekstraselular (misalnya, polimerisasi peptidoglikan di dalam bakteri), dan di dalam protein eukariotik N-glikosilasi. Kardiolipin adalah sub-kelas gliserofosfolipid yang mengandung empat rantai asil dan tiga gugus gliserol yang tersedia melimpah khususnya pada membran mitokondria bagian dalam. Mereka diyakini mengaktivasi enzim-enzim yang terlibat dengan fosforilasi oksidatif (http://id.wikipedia.org).
2.1.5        Peranan Lipid
Lipid terdapat dalam semua bagian tubuh manusia terutama dalam otak dan  lipid mempunyai peran penting dalam metabolisme secara umum. Sebagian besar lipid sel jaringan terdapat sebagai komponen utama membran sel. Adapun peran lipid dalam sistem mahluk hidup  adalah sebagai berikut :
1.      Komponen struktur membran; semua membran sel termasuk mielin, mengandung lipid lapisan ganda. Fungsi membran diantaranya adalah sebagai barier permeabel.
2.      Lapisan pelindung pada beberapa jasad; fungsi membran yang sebagian besar mengandung lipid, seperti barier permeabel untuk mencegah infeksi dan kehilangan atau penambahan air berlebihan.
3.      Bentuk energi cadangan; sebagai fungsi utama triasilgliserol yang ditemukan dalam jaringan adiposa
4.      Komponen permukaan sel yang  berperan dalam proses interaksi antar sel dengan senyawa kimia di luar sel seperti dalam proses kekebalam jaringan, insulasi barier ; menghindari panas, tekanan listrik dan fisik
Sebagai komponen dalam proses pengangkutan melalui membran. Seperti kofaktor/prekusor enzim untuk aktivitas seperti fosfolipid dalam darah, koenzim A dan sebagainya.
2.2         Karakteristik Pereaksi
a.        Etanol
Merupakan senyawa alcohol yang mempunyai rumus kimia C2H5OH; zat cair jernih tak berwarna, berbau khas, mudah terbakar, dan mudah bercampur dengan air. Digunkaan sebagai pelarut, antiseptic (alcohol 70%), bahan minuman keras, dan sebagi bahan bakar, sebagai bahan mentah dalam beberapa industry kimia. T.l -117,3oC; t.d 78,5oC; d 0,78.
b.        Eter
Merupakan senyawa organic dengan rumus molekul (C2H5)2O; zat cair tak berwarna, mudah menguap dan sangat mudah terbakar. Eter menurut USP (United States of Pharmacopeia) mengandung (C2H5)2O sebesar 96-98% (massa) dan sisanya berupa alcohol dan air. Dibuat secara industry melalui reaksi antara alcohol dan asam sulfat pekat; kegunaannya adalah sebagai pelarut; dan pernah sebagai zat anastetik (pembius) di dunia medis yang cukup lama. Nama lain dari eter adalah dietil eter; dietil oksida. T.l -116oC; t.d 34,5oC; d 0,714.
c.         Natrium hidroksida, NaOH
Merupakan senyawa basa yang berupa padatan berwarna putih, bersifat higroskopis, mudah menyerap gas CO2 membentuk Na2CO3, larut mudah dalam air (membentuk larutan basa kuat; disebut lindinatron), sangat korosif terhadap jaringan organic. Digunakan dalam pembuatan rayon, kertas, detergen/sabun, beberapa senyawa kimia, untuk pembersihan pencemaran minyak, serta untuk menghilangkan cat. T.l 318oC; t.d 1390oC; d 2,1.
d.        Asam sulfat, H2SO4
Merupakan aam organic berupa zat cair kental menyerupai minyak, tak berwarna, higroskopis, dalam larutannya (air) bersifat asam kuat, dalam keadaan pekat bersifat oksidator, dan bersifat dapat mengikat air (sebagai zat pendehidrasi). Asam sulfat merupakan bahan yang berguna untuk industry pupuk, cat, rayon, bahan peledak, dan untuk berbagi produk lainnya serta untuk pemurnian minyak bumi disamping digunakan untuk air aki. T.l 10oC; t.d 315-338oC; d 1,8.
e.        Larutan NaCl
Merupakan larutan yang berasal dari pelarutan padatan NaCl, yang berupa Kristal berwarna putih, bersifat tak higroskopis dan digunakan sebagi zat pengawet, bahan baku pembuatan logam Na dan NaOH; bahan untuk pembuatan keramik, kaca dan pupuk.
2.3        Reaksi Penyabunan
Reaksi ini didasarkan pada reaksi  antara trigliserida dengan basa (biasanya digunakan NaOH/KOH) sehingga menghasilkan sabun dan gliserin sebagi hasil sampingnya. Berikut reaksi pembentukan sabun:





Trigliserida                                                    gliserol            sabun
BAB III
METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1    Alat-alat yang Digunakan
Adapun alat-alat yang digunakan antara lain:



    Gelas Kimia                         Gelas Ukur             Tabung Reaksi                        Erlenmeyer



    Neraca                                    Corong Pisah                                                Penangas Air

 

       
        Pipet Tetes                            Batang Pengaduk                          Rak Tebung Reaksi



3.1.2    Bahan yang Digunakan
Bahan-bahan yang digunakan antara lain:
a.        Etanol
b.        Eter
c.         NaOH 10% dalam etanol
d.        NaCl jenuh
e.        Asam sulfat pekat
f.          Aquadest
g.        Sampel (lemak sapi)
3.2 Prosedur Kerja
a)        Ekstraksi Lipid

10 mL lemak sapi
Filtrat
Ekstrak (zat padat)
Tdak larut (menggumpal)
 



§  Dimasukkan kedalam campuran etanol-eter (75 mL : 25 mL)
§  Dikocok
§  Dibiarkan hingga terbentuk dua lapisan (zat padat dan pelarut
§  Dipisahkan














b)        Penyabunan Lemak (Kualitatif)
Ekstrak Lipid
Filtrat
Padatan Sabun
Larutan Sabun
Filtrat
Sabun
Terbentuk dua lapisan: atas (minyak) dan lapisan bawah (cairan)
Pemisahan asam lemak
Salting-Out Sabun
 



§  Dikisatkan di dalam penangas air hingga kering
§  Ditambahkan 15 mL larutan NaOH 15% dalam etanol
§  Dipanaskan kembali selama 30 menit dengan sesekali diaduk
§  Padatan sabun yang tidak larut diaduk
§  Disaring









§  Ditambahkan 25 mL air
§  Diaduk hingga terjadi suspensi bening






§  Ditambahkan 10 mL larutan NaCl jenuh
§  Dibiarkan sampai terjadi gumpalan sabun
§  Pisahkan sabun tersebut



§  Dilarutkan dalam 15 mL air panas
§  Ditambahkan asam sulfat sampai netral
§  Dipanaskan kembali
§  Didinginkan










BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1    Hasil Pengamatan
Perlakuan
Pengamatan
A.     Ekstraksi Lipid
§  Sampel dipanaskan
§  Dicampurkan 50 mL etanol dan 25 mL eter + 10 mL lemak dalam corong pisah
§  Diekstraksi, dibiarkan hingga terbentuk dua lapisan
§  Dipisahkan
§  Ekstrak + air
§  Terbentuk lemak
§  Terbentuk gumpalan

§  Terbentuk dua lapisan (filtrate dan ekstrak)
§  Dihasilkan padatan sabun
§  Tidak larut dalam air
B.      Percobaan Penyabunan Lemak
§  Ekstrak yang diperoleh dikisatkan hingga kering
§  Ditambahkan larutan NaOH 10% dalam etanol
§  Dipanaskan kembali selama 30 menit
§  Disaring
§  Padatan sabun ditambahkan 25 mL air
§  Diaduk hingga terjadi suspensi
§  Ditambahkan 10 mL larutan NaCl jenuh
§  Dibiarkan hingga terbentuk gumpalan sabun
§  Dipisahkan
§  Sabun yang diperoleh di larutkan dalam 15 mL air panas
§  Ditambahkan asam sulfat hingga netral
§  Dipanaskan kembali
§  Didinginkan
§  Padatan kering berwarna agak kuning

§  Sebagian padatan terlarut membentuk campuran
§  Masih terdapat padatan yang tidak larut
§  Dihasilkan padatan sabun
§  Padatan sabun larut dalam air
§  Terbentuk suspensi menyerupai busa
§  Larutan menjadi berwarna putih
§  Gumpalan sabun terbentuk

§  Dihasilkan sabun
§  Sabun melarut dalam air panas

§  Larutan menjadi netral

§  Terbentuk minyak di lapisan atas


4.2    Pembahansan
4.2.1        Ekstraksi Lipid
Lipid atau trigliserida merupakan bahan bakar utama hampir semua organisme disamping karbohidrat. Trigliserida adalah triester yang terbentuk dari gliserol dan asam-asam lemak.





Struktur Asam Lemak
Asam-asam lemak jenuh ataupun tidak jenuh yang dijumpai pada trigliserida, umumnya merupakan rantai tidak bercabang dan jumlah atom karbonnya selalu genap.
Apabila triasilgliserol dicampur dengan basa alkali dan dipanaskan, akan mengalami saponifikasi, yaitu terjadi hidrolisis yang tidak reversible dan akan dihasilkan gliserol dan asam lemak bebas.




Sampel yang digunakan pada percobaan ini adalah sampel lemak sapi yang diperoleh dari hasil pemanasan sampel tersebut. Untuk dihasilkan ekstrak lemak maka sampel lemak yang diperoleh itu di masukkan ke dalam corong pisah yang berisi campuran etanol-eter dengan volume masing-masing pelarut yaitu 50 mL dan 25 mL, sementara volume lemak yang dicampurkan ke dalam pelarut adalah 10 mL.
Pada percobaan ini digunakan campuran etanol-eter, mengapa bukan air? Hal ini disebabkan karena berdasrkan teori bahwa lemak/lipid tidak dapat larut dalam air tapi dapat larut dalam pelarut organic seperti eter dan etanol. Jika digunakan pelarut air maka lemak yang akan diekstraksi tidak terdistribusi dalam pelarut, sementara prinsip dari ekstraksi adalah distribusi zat/sampel pada pelarut. Berikut gambar yang menunjukkan pencampuran sampel dalam pelarut etanol-eter.




Sampel yang dimasukkan dalam pelarut etanol-eter
Setelah dicampurkan dalam corong pisah, maka perlakuan selanjutnya adalah mengocok. Tujuan dari perlakuan ini adalah agar lemak yang dicampurkan tersebut dapat terdistribusi baik pada eter amupun terdistribusi pada etanol. Dari hasil pengocokkan tersebut dihasilkan suatu gumpalan berwarna putih. Kemudian gumpalan tersebut dipisahkan dengan cara mengeluarkan pelarut dari corong pisah tersebut.
                                                                                                            Ekstrak (lipid)


 

                                                                                                            Rafinat
Proses ekstraksi
Ekstrak yang dihasilkan diambil sedikit untuk diuji kelarutannya dalam air. Pada uji kelarutan lipid, hampir semua jenis lipid, yaitu lemak dan minyak tidak larut dalam pelarut polar seperti air, namun larut dalam pelarut non polar seperti kloroform, alcohol, eter, dan benzena. Pada uji kelarutan dalam air, ekstrak tidak larut dalam air. Hal ini disebabkan pada ekstrak tersebut tidak mempunyai kepala polar berupa gugus -OH dimana gugus ini yang dapat berikatan hidrogen dengan molekul air. Lemak hewan dan minyak kelapa tengik dapat terdispersi menjadi misel yang megubah asam-asam lemak penyusunnya menjadi sabun. Selain itu, tidak larutnya ekstrak ini menunjukkan bahwa ekstrak itu masih mengandung pelarut eter, sebab eter tidak larut dalam air. Mengapa eter tidak larut dalam air sementara alcohol (etanol) dapat larut? Berikut penjelasannya.
Alcohol dan eter terdiri dari molekul polar. Dalam kedua tipe senyawa ini, oksigen mengemban muatan negative parsial. Momen dipole senyawa berikut menunjukkan berkurangnya polaritas dalam deret H2O, ROH, dan ROR.


μ:             1,8 D                  1,7 D                          1,3 D
Alcohol berbobot molekul rendah larut dalam air, sedangkan alkil halide padanannya tidak larut. Kelarutan dalam air ini langsung disebabkan oleh ikatan hydrogen antar alcohol dan air. Bagian hidrokarbon suatu alcohol bersifat hidrofob, yakni menolak molekul-molekul air. Makin panjang bagian hidrokarbon ini akan makin rendah kelarutannya dalam air. Bila rantai hidrokarbon cukup panjang, sifat hidrofob ini dapat mengalahkan sifat hidrofil gugus hidroksil. Eter tidak dapat membentuk ikatan hydrogen antara molekul-molekulnya, karena tidak mempunyai hydrogen yang terikat pada atom oksigen (Fessenden, 1982: 260-262).
Dengan demikian, fungsi eter pada percobaan inia adalah merupakan bahan yang bersifat nonpolar, sehingga dapat melarutkan minyak kelapa yang juga bersifat nonpolar. Sedangkan air berfungsi sebagai pelarut yang bersifat polar.Karena sifatnya yang polar, air tidak dapat melarutkan lipid yang bersifat nonpolar.


4.2.2 Percobaan Penyabunan Lemak
Ekstrak lipid yang telah diperoleh kemudian dikisatkan dengan penangas air hingga kering. Tujuan dari pemanasan pada percobaan ini adalah agar pelarut yang masih ada pada ekstrak/padatan sabun dapat dihilangkan dengan cara pemanasan dimana pelarut tersebut akan menguap sehingga tertinggal padatan kering yang tidak mengandung pelarut.
Setelah kering, kemudian ditambahkan 15 mL larutan NaOH 10% dalam etanol. Pada pencampuran ini terbentuk suatu padatn berwarna putih. Kemudian dipanaskan kembali sambil sesekali diaduk, pemasan dilakukan selama 30 menit. Pada proses ini masih terdapat endapan yang tidak larut yang selanjutnya akan disaring untuk memperoleh padatan sabun seperti terlihat pada gambar berikut.


                                                                                                Sabun

Sebagian besar lemak dan minyak di alam terdiri atas 98-99% trigliserida. Trigliserida adalah suatu ester gliserol. Trigliserida terbentuk dari 3 asam lemak dan gliserol. Apabila terdapat satu asam lemak dalam ikatan dengan gliserol maka dinamakan monogliserida. Fungsi utama trigliserida adalah sebagai zat energi. Lemak disimpan di dalam tubuh dalam bentuk trigliserida. Apabila sel membutuhkan energi, enzim lipase dalam sel lemak akan memecah trigliserida menjadi gliserol dan asam lemak serta melepasnya ke dalam pembuluh darah. Oleh sel-sel yang membutuhkan komponen-komponen tersebut kemudian dibakar dan menghasilkan energi, karbondioksida (CO2), dan air (H2O).
Proses penyabunan diperoleh dari reaksi antara trigliserida dengan basa. Trigliserida akan terhidrolisis jika dididihkan dengan asam atau basa. Hidrolisis trigliserida oleh basa kuat (KOH atau NaOH) akan menghasilkan suatu campuran sabun K+ atau Na+ dan gliserol. Hidrolisis trigliserida dengan asam akan menghasilkan gliserol dan asam-asam lemak penyusunnya. Persamaan reaksi yang menunjukkan proses pembuatan sabun adalah reaksi berikut.
C3H5(OOCR)3 + 3 NaOH    C3H5(OH)3 + 3 NaOOCR
Reaksi diatas sedikit mewakili dari reaksi penyabunan. Kalau kita amati maka kita akan segera tau bahwa memang benar lemak yang direaksikan dengan basa kuat menghasilkan sabun dan gliserin sebagai hasil sampingnya. Tapi yang perlu diketahui adalah sabun yang kita pakai sehari-hari tidak hanya mengandung senyawa sabun saja. Tapi ada beberapa senyawa yang sengaja ditambahkan untuk menyempurnakan fungsi dari sabun itu sendiri.
Sabun yang dihasilkan tersebut kemudian dilarutkan dalam 25 mL air, diaduk hingga terjadi suspense bening menjadi larutan sabun, atau suatu emulsi. Emulsi adalah lipid nonpolar (dalam bentuk partikel besar) yang terdapat dalam medium aquous. Bentuk emulsi ini akan distabilkan oleh lipid amfipatik seperti lesitin. Lesitin ini merupakan senyawa amfipatik (lipid amfipatik/polar), yaitu senyawa yang mempunyai bagian hidrofobik yang berinteraksi dengan lemak dan bagian hidrofilik yang berinteraksi dengan air. Karena itu, senyawa tersebut sering ditemukan di pertemuan antara lemak dan air. Jika lipid polar yang berada dalam media aquous telah mencapai konsentrasi tertentu maka akan terbentuk misel.
Garam-garam natrium (sabun) dapat larut dalam air. Hal ini dapat dijelaskan berdasarkan gugus fungsi yang terdapat dalam sabun hingga sabun dapat berinteraksi dengan air. Bagian yang panjang dari sabun terbentuk dari rantai karbon yang panjang, gugus alkil, yang bersifat non-polar sehingga dapat melarutkan senyawa-senyawa non-polar seperti minyak bumi dan kotoran minyak/vaselin (fungsi sabun sebagai pembersih). Bagian terbesar dari molekul berwujud hidrokarbon yang non-polar bersifat hidrofobik, yang berarti menolak air sebagaimana dijelaskan diatas. Bagian ini disebut ekor.
Bagian lain yang mengandung gugus karboksilat bersifat sangat polar dan hidrofilik, berarti suka air. Bagian ini disebut kepala. Bila sabun dilarutkan dalam air maka ujung karboksilat akan larut, sedangkan bagian hidrokarbon tidak larut dalam air. Sebaliknya bila sabun berhubungan dengan cairan/kotorannya yang mengandung oli/grease maka bagian hidrokarbon akan larut dalam oli sedangkan gugus karboksilat yang polar tetap larut dalam air. Bagian ekor dan kepala pada sabun dapat dilihat pada gambar berikut.














                                                                                    (Sastrohamidjojo, 2005: 112-113)
Dalam korelasi klinis, lipid amfipatik sangat diperlukan unutk membantu mengabsorbsi hasil pencernaan lipid dalam usus halus. Selain itu lipid amfipatik juga merupakan struktur penting penyusun membran sel biologik.
Larutan sabun tersebut ditambahkan larutan NaCl jenuh hingga dan larutan berwarna putih, dibiarkan hingga terbentuk gumpalan sabun. Penambahan NaCl pada campuran dimaksudkan agar sabun mengendap. Dan selanjutnya disaring dihasilkan sabun seperti yang terlihat pada gambar berikut.


                        Sabun

Sabun hasil proses salting-out sabun
Sabun yang dihasilkan merupakan senyawa yang tergolong asam lemak. Asam lemak terutama ditemukan sebagai bentuk ester di dalam lemak dan minyak alami, tetapi juga ditemukan dalam bentuk tidak terseterifikasi sebagai asam lemak bebas, suatu bentuk pengangkut yang ada di dalam plasma darah. Asam lemak yang terdapat di dalam lemak alami biasanya merupakan derivat rantai lurus dan mengandung atom karbon dalam jumlah genap karena senyawa tersebut di sintesis dari unit dua-karbon. Rantai tersebut bisa berupa rantai jenuh (tidak mengandung ikatan rangkap) atau rantai takjenuh (mengandung satu atau lebih ikatan rangkap).
Sabun tersebut kemudian dilarutkan dalam 25 mL air panas, sabun melarut dan terbentuk busa dipermukaan larutan. Larutan tersebut kemudian ditambahkan asam sulfat pekat hingga netral. Kemudian dipanaskan kembali, didinginkan dan dihasilkan minyak yang terdapat dipermukaan cairan.




Sabun dalam air panas                                   Pemanasan larutan sabun setelah
       di tambahkan asam sulfat
Minyak yang dihasilkan dapat dilihat pada gambar berikut.

                                                Laisan minyak


Rafinat yang diperoleh dari hasil penyabunan lemak kemudian diuapkan didalam penangas air, kemudian dilakukan ekstraksi untuk memperoleh kolesterol dengan menambahkan 10 mL alcohol 98%, disaring dan dikisatkan. Selanjutnya ditambahkan air suling sampai tidak terbentuk lagi endapan putih, sehingga dihasilkan kolesterol. Kolesterol adalah metabolit yang mengandung lemak sterol (bahasa Inggris: waxy steroid) yang ditemukan pada membran sel dan disirkulasikan dalam plasma darah.  Merupakan sejenis lipid yang merupakan molekul lemak atau yang menyerupainya. Kolesterol ialah jenis khusus lipid yang disebut steroid. Steroids ialah lipid yang memiliki struktur kimia khusus. Struktur ini terdiri atas 4 cincin atom karbon. Kolesterol merupakan hasil dari proses siklisasi skualen. Proses ini memerlukan molekul oksigen. Zat antaranya yang reaktif yaitu skualen epoksida dibentuk dalam suatu reaksi yang menggunakan O2 dan NADPH. Kemudian skualen epoksida ini oleh suatu enzim siklase akan mengalami siklisasi menjadi lanosterol. Penutupan cincin siklik ini terlaksana oleh gerakan serentak electron-elektron melalui empat ikatan rangkap dan pemindahan gugus metal. Pada akhirnya, lanosterol diubah menjadi kolesterol dengan pengeluaran tiga gugus metal, reduksi satu ikatan rangkap oleh NADPH, dan pemindahan dari ikatan rangkap yang lain. Kolesterol ini banyak terdapat pada ekuariot akan tetapi tidak terdapat pada kebanyakan prokariot.



















Struktur Kolesterol
Kolesterol yang dihasilkan kemudian di ambil, diperiksa dibawah mikroskop untuk mengetahui bentuk kristalnya. Namun, alat yang digunakan tidak tersedia maka bentuk Kristal dari mikroskop tidak dapat diketahui. Secara klinis, kolesterol merupakan lipid amfipatik yang berperan sebagai komponen memran sel yang penting. Selain itu kolesterol juga merupakan senyawa induk bagi sitesis berbagai steroid dalam tubuh seperti hormon korteks adrenal, hormon seks, vitamin D dan asam empedu serta glikosida jantung.
Pada hasil uji akrolein, gliserol dalam bentuk bebas atau yang terdapat dalam lemak/minyak akan mengalami dehidrasi membentuk aldehid akrilat atau akrolein. Senyawa pendehidrasi dalam uji ini adalah KHSO4 yang menarik molekul air dari gliserol. Hasil uji akrolein menunjukkan bahwa semua bahan yang diuji memberikan bau yang tajam yang diidentifikasi oleh praktikan sebagai bau akrolein. Pada teorinya, hanya gliserol dalam bentuk bebas atau yang terikat berupa senyawa yang akan membentuk akrolein, sedangkan asam-asam lemak tidak. Dalam percobaan ini asam lemak seperti asam oleat dan stearat memberikan hasil uji positif untuk akrolein. Penyebab kesalahan ini adalah kesalahan praktikan dalam mengidentifikasi bau akrolein.
Pada pembentukan akroelin, gliserol merupakan hasil pemecahan lemak pada suhu tinggi. Gliserol merupakan komponen pokok pembentukan akrolein. Akrolein mempunyai bau spesifik yang merangsang. Sedangkan Kristal KHSO4 dalam sebuah reaksi dapat berfungsi: Mengikat air, sebagai katalisator, sebagai oksidator.
Pada percobaan ini yang digunakan adalah sifat KHSO4 yang mengikat air dari gliserol. Reaksinya adalah sebagai berikut :
                 

Sementara, trigliserida yang mengandung asam lemak yang mempunyai ikatan rangkap dapat diadisi oleh golongan halogen. Pada uji ketidakjenuhan, pereaksi iod huble akan mengoksidasi asam lemak yang mempunyai ikatan rangkap pada molekulnya menjadi berikatan tunggal. Warna merah muda yang hilang selama reaksi menunjukkan bahwa asam lemak tak jenuh telah mereduksi pereaksi iod huble. Dari hasil uji ketidakjenuhan, asam oleat menunjukkan hasil negatif, yaitu bahwa ia mempunya uikatan rangkap pada molekulnya, sedangkan bahan lain yang diujikan menunjukkan hasil positif, yaitu tidak adanya ikatan rangkap pada molekulnya.
Ketengikan pada kebanyakan lemak atau minyak menunjukkan bahwa kebanyakan golongan trigliserida tersebut telah teroksidasi oleh oksigen dalam udara bebas. Pada uji ketengikan, warna merah muda menunjukkan bahwa bahan tersebut tengik. Warna merah muda dihasilkan dari reaksi antara floroglusinol dengan molekul oksigen yang mengoksidasi lemak/minyak tersebut. Hasil percobaan menunjukkan, dari semua bahan yang diuji, hanya minyak kelapa dan margarin yang tidak tengik. Hal-hal yang mempengaruhi ketengikan ini adalah proses penyimpanan bahan uji yang cukup lama dan kurang tertutup, sehingga berinteraksi dengan udara bebas yang menyebabkannya menjadi tengik.
Uji salkowski dan lieberman-buchard digunakan untuk mengidentifikasi adanya kolesterol. Pada uji salkowski, terbentuk cincin coklat yang menunjukkan terjadinya reaksi antara kolesterol dengan asam sulfat pekat.
Steroid adalah gugus senyawa yang mengandung struktur cincin yang terdiri dari cincin fenantren (cincin A, B, dan C) serta cincin siklopentana (cincin D). Kolesterol merupakan senyawa induk yang merupakan asal dari semua steroid yang dihasilkan di dalam tubuh manusia. Pada uji ini, kolesterol berfungsi sebagai sumber sterol jenuh; kloroform berfungsi sebagai pelarut kolesterol agar lebih mudah bereaksi; sedangkan H2SO4 pekat berfungsi sebagai oksidator. Dalam percobaan ini, akan terbentuk 3 lapisan dalam tabung reaksi, dari permukaan bawah :
1.        Warna merah kebiruan sampai merah cerah dan ungu (purple), merupakan hasil dari reaksi antara kloroform dan kolesterol yang berupa kolestadiena.
2.        Fluoresensi hijau, merupakan hasil reaksi antara kolestadiena dan asam sulfat yang berupa asam sulfonat.
3.        Kuning, merupakan sisa asam sulfat yang tidak ikut bereaksi.
Secara klinis, sterol adalah senyawa yang mempunyai lebih dari satu gugus hidroksil dan tidak memiliki gugus karbonil maupun karboksil. Fungsinya dalam tubuh sama dengan fungsi steroid di dalam tubuh manusia.
Warna hijau pada uji lieberman-buchard menunjukkan reaksi antara kolesterol dengan asam asetat anhidrat. Kedua uji tersebut diatas dapat digunakan untuk mengukur kadar kolesterol secara kalorimetri.











BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari hasil pengamatan yang diperoleh, lipid larut dalam pelarut organik seperti kloroform, atau eter tetapi tidak larut dalam air. Sabun dapat diperoleh dari hasil hidrolisis trigliserida dengan basa NaOH, yang disebut dengan reaksi penyabunan. Pada uji akrololein semua bahan mengandung gliserol yang membedakannya hanya intensitas bau yang ditimbulkan. Pada uji ketidakjenuhan bahan yang jenuh memberikan perubahan warna menjadi merah muda sedangkan yang tidak jenuh tetap pada warna asalnya. Minyak atau lemak yang tengik dapat dideteksi denga perubahan warna kertas menjadi merah muda. Kolesterol diuji secara kualitatif dengan uji Salkowski dan Lieberman Buchard.
5.2  Jawaban Pertanyaan
1.        Peranan alcohol pada pembuatan sabun adalah sebagai zat yang dapat melarutkan kolesterol pada prose penyabunan lemak.
2.        Sabun juga dapat melarut dalam eter. Hal ini dapat ditunjukkan dengan eter juga dapat membentuk ikatan hydrogen antara molekul-molekulnya, walau tidak mempunyai hydrogen yang terikat pada atom oksigen. Namun, senyawa eter juga terdiri dari molekul polar sehingga akan bereaksi dengan molekul polar pada sabun yang ditunjukkan pada gambar berikut.




3.        Terdapat lemak yang tidak disabunkan karena pada lemak merupakan senyawa organic yang bersifat nonpolar, sementara untuk membuat sabun dibutuhkan suatu senyawa basa yang bersifat polar. Dimana senyawa dengan sifat polar dan nonpolar tidak akan bercampur sehingga dalam reaksinya antar NaOH dengan lemak diperlukan suatu medium pereaksi untuk reaksi penyabunan tersebut. Medium yang digunakan dapat berupa etanol karena etanol merupakan senyawa yang terdiri dari molekul semipolar karena mengandung gugus polar -OH dan nonpolar CH3+. Akan tetapi ada lemak yang tidak disabunkan, ada kemungkinan bahwa pada proses reaksi penyabunan tidak terdapat medium pereaksi.
4.        Peranan asam sulfat dalam memisahkan  asam lemak dari sabun yaitu sebagai oksidator, sehingga lemak yang dihasilkan semakin banyak.
5.         Kolesterol banyak terdapat dalam daging karena daging memiliki kandungan lemak yang memiliki sifat-sifat yang khas yaitu tidak larut atau sedikit larut dalam air dan dapat diekstraksi dengan pelarut nonpolar seperti kloroform eter, benzene, aseton atau alcohol panas. Kolesterol ini juga banyak terdapat pada ekuariot akan tetapi tidak terdapat pada kebanyakan prokariot.











DAFTAR PUSTAKA

Amiruddin, A. 1993. Kamus Kimia Organik. Jakarta: Depdikbud.
Arbianto, Purwo. 1994. Biokimia Konsep-konsep Dasar.  Bandung: Depdikbud.
Armstrong, Frank B. 1995. Buku Ajar Biokimia. Edisi ketiga. Jakarta: EGC.
Bialangi, Nurhayati. 2008. Penuntun Praktikum Kimia Organik II. Gorontalo: Jurusan Kimia FMIPA UNG.
Fessenden, R.J, & Fessenden, J.S. 1982. Kimia Organik, Edisi Ketiga Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Gilvery, Goldstein. 1996. Biokimia Suatu Pendekatan Fungsional. Edisi 3. Surabaya: Airlangga University Press.
Girindra, A. 1986. Biokimia I. Gramedia, Jakarta.
Lehninger, A. 1988. Dasar-dasar Biokimia. Terjemahan Maggy Thenawidjaya. Jakarta: Erlangga.
Martoharsono, Soeharsono. 2006. Biokimia 2. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Mulyono. 2005. Kamus Kimia. Bandung: Bumi Aksara.
Poejiandi, Anna.2006. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta : Universitas Indonesia.
Sastrohamidjojo, Hardjono. 2005. Kimia Organik Stereokimia, Karbohidrat, Lemak dan Protein. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Stryer, Lubert. 2000. Biokimia, Vol 2 Edisis 4. Jakarta: EGC.
Team Teacheng. 2010. Penuntun Praktikum Biokimia. Gorontalo: Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA UNG.
Yazid, Estien. 2006. Penuntun Praktikum Biokimia untuk Mahasiswa Analis. Yogyakarta: ANDI.
http://jlcome.blogspot.com/2007/10/lipid.html di akses tanggal 20 Juni 2010.
http://id.wikipedia.org/lemak di akses tanggal 20 Juni 2010.
http://id.wikipedia.org/lipid di akses tanggal 20 Juni 2010.
http://id.wikipedia.org/kolesterol di akses tanggal 20 Juni 2010.
http://www.medicastore.com/nutrace di akses tanggal 20 Juni 2010.
http://www.rismaka.net/2010/06/19/uji-lipid/ di akses tanggal 20 Juni 2010.

1 komentar: